Selasa, 03 Desember 2019

- Awal Mula Aku Melihat Hantu


pm - Menembus Mata Batin [ edisi revisi]- Awal Mula Aku Melihat Hantu

Semilir angin mengembus, suara burung hantu pun terdengar lirih, tiba-tiba terdengar suara ponsel berbunyi.

" Hei Nona Cantik, sudah tidur belum?" Zeta menelpon dengan suara di loadspeaker sehingga suara nyayian Crisye di radionya pun terdengar.

"Berisik banget sih lu, jam berapa ini?  Gue lagi asyik nonton nih sama bokap, ah ganggu ajah!" Wardah dengan logat Betawinya menanggapi guyonan sahabatnya.

"Ups, sorry ... kan gue tahu lu insomnia akut, sudah mata kaya Panda, jadi inget film Suzanna." Terdengar suara tawa yang begitu lepas.

"Tujuan lu apa nelpon tengah malam gini?  engga enak nih gue sama bokap, tuh dia ngelirik-ngelirik aja."

"Oh ya, kerjaan lu lagi longgarkan? ada job buat lu, foto shoot buat hijab, dia launching produk baru, besok ya jam 13.00, di Menara Karya, Kuningan."

"Sip, honornya lumayankan?"

"Iyalah, dari pada lu manyun, hehe."

Wardah pun segera menyiapkan pakaian yang besok akan dikenakan,  wajahnya yang cantik keturunan Betawi-Arab dengan tinggi badan 162 cm, membuatnya sering mengikuti foto model sebuah produk, meski hanya untuk kerja sampingan.

****

"Hallo, Mba Wardah ... ayo langsung di make up aja ya, mari ikuti saya, teman kamu sebentar lagi selesai di make up."

Wardah mengikuti wanita dengan postur tubuh menarik ke ruang make up, Zeta yang sedang di make up pun hanya mengisyaratkan tangannya untuk duduk di sampingnya.

"Sebentar ya Non tinggal memakaikan lipstik nanti giliran kamu." Ucap si penata rias dengan senyum tipisnya.

Dengan make up yang soft, membuat kecantikan Wardah lebih terpancar, dia memang gadis tomboy, hanya di moment-moment tertentu saja dia ber-make up dengan dandanan yang full.

"Hei Zet ... bagaimana penampilan gue," dengan memutar-mutarkan badan 180 derajat.

"Widih cantik banget dah lu 11 -12 lah sama Marsyanda, hehe tapi di mata gue  tetep cantikan lu lah."

"Hua ... ngakak habis, cantikan Marsyanda lah, diakan perawatan terus. Tapi lu juga ngga kalah cantik."

" Ya iyalah gue gitu loh ...."

Di ruangan tersebut hanya ada 5 orang, 3 kru dan 2 model, Wardah dan Zeta. Orangnya penuh dengan senyuman, candaan lepas sering terjadi sehingga pekerjaan pun berlangsung dengan begitu ringan tak ada beban yang menyelimuti meski empat jam sudah dijalani.

" Zet, sekarang giliran lu tuh, gue mau ke kamar mandi dulu ya!" Ucap Wardah yang sebentar-bentar mengangkat kakinya.

"Sip, beranikan sendiri? ngga usah gue temenin, hihi lu kan suka berhalusinasi suka melihat bayangan-bayangan ngga jelas, bisa jadi lu kaya bokap lu ya, bisa liat hantu juga!"

"Ish apaan si lu Zet, gue belum secanggih bokap, temannya lebih canggih sih, dia jam terbangnya uda jauh, ade gue juga bisa liat, tapi gue ngga mau ah, biar aja jadi imajinasi gue!"

" Ya uda sana,  entar ngompol di sini lagi. "Zeta pun segera bersiap untuk sesi pemotretan.

***

’Kamar mandinya bersih banget ya!’ Bisik hati Wardah, sambil merapihkan pakaian dan hiasannya.

Dia mulai merasa ada yang aneh, seperti ada yang memantau dirinya, karena Wardah orangnya cuek, dia anggap hanya sebagai imajinasinya semata.

"Cepet banget!  tinggal satu sesi lagi kita kelar, hei! lu denger ngga gue ngomong, wardah ... hei!"  Zeta sambil menggoyangkan tangannya ke wajah Wardah.

"Eh, aduh Zet badan gue tiba-tiba ngga enak gini ya!" Bulu-bulu halus berdiri bagai di setrum, kadang aroma bau busuk tercium olehnya.

"Kenapa lu? iya wajah lu rada pucat, jangan- jangan lu kesambet setan kamar mandi ya!" Dengan gurauan  Zeta dapat mencairkan suasana, sambil menunggu juru kamera yang sedang mengganti roll film yang habis.

Ruangan yang tadinya bersuhu 16 derajat celcius hanya dengan waktu  lima menit setelah dari kamar mandi tiba-tiba berubah menjadi  nol derajat, bahkan minus.

Tubuh Wardahpun bergoyang tak tentu arah. Zeta pun meminjamkan syalnya untuk Wardah, jaket yang dikenakan pun tidak dapat meredam rasa dingin sampai ke tulang belulang.

***

Sesi pemotretan pun telah selesai.

" Lu ngga kenapa-kenapakan Wardah? gue jadi takut gini liat keadaan lu!"

"Iya, nyantai aja, gue ko merasa ada yang merhatiin gue ya!" Dengan aroma yang tidak mau hilang-hilang dari hidungnya meski parfum selalu disemprotkan, pengharum ruanganpun tak mampu memendam bau itu.

"Tu kan apa gue bilang, elu kesambet kali sama setan kamar mandi."

"hus ... ngomong jangan sembarangan!

***

Kenyamanan yang di rindukan, akhirnya Wardah bisa membaringkan badannya.

Di rumah tak membuat keadaan Wardah membaik. Tubuhnya menggigil dengan bulu kuduk yang ikut meremang, membuat Wardah ingin bermanja pada sang ibu.

"Bu ... kerokin Wardah dong, badan Wardah ngga enak banget nih." Sambil memegang leher yang terasa berat, aroma bau busuk pun tak kunjung hilang.

"Makanya kalau kerja jangan lupa makan!" Sentuhan lembut tangan sang bunda membuat keadaanya sedikit membaik.

"Habis ini makan ya! apa ibu mau suapin," Ujar sang ibu sambil menyiapkan makanan untuk anak tercinta.

"Makasih ibu cantik." 

Ketika sedang menikmati kelezatan sayur sop brokoli ditambah jagung, tidak lupa teh manis yang menghangatkan tubuh.

Dari tangga muncul benda berukuran panjang berwarna hitam, menjulur sampai ke bawah tangga diikuti dengan wajah putih gigi bercaling, menatap tajam ke arah Wardah.

’ini cuma halusinasi ... ini cuma halusinasi ... ’ batin pun terus meyakinkan akan keadaan ini.

Sejak kejadian itu, kondisi fisik Wardah kian melemah. Tak ada ketenangan dalam tidurnya. Sosok-sosok misterius terus mengikutinya, bahkan mengawasi si Cantik ini saat tertidur. 

Tak kuasa lagi menahan, Wardah pun bercerita kepada ayahnya. Dengan bibir bergetar ia menceritakan segala kekalutannya beberapa minggu ini.

Meski ayahnya bisa tetapi sang ayah memutuskan untuk membawa Wardah kepada teman karib beliau yang lebih mengerti tentang dunia di luar nalar.

***

"Sohib, anak ente ada yang isengin bukan setan lebih ke jin, rambutnya panjang, gigi bercaling seperti vampir."

"Kalau bisa jangan banyak bengong, suruh banyak berzikir aja ya, ane bantu sebisa ane!"

"Afwan."

Makhluk astral sudah tidak mengikuti tetapi kondisi  fisik Wardah tak mampu dipertahankan, rasa perut melilit tak lagi dihiraukan, selama dua minggu dia bertahan, akhirnya tubuh tumbang energi habis terkuras, hingga dia harus rawat inap di penginapan berbayar yang tak romantis.

Dalam keadaannya yang terkulai tanpa tenaga ada anak kecil tanpa ada kulit yang membungkus daging dengan tengkorak yang terbelah, mengajaknya bermain.

"Kaka sini main yuk ka, temenin ade ngga punya temen." Anak kecil yang tak berupa terus saja mengganggu waktu istirahatnya, tubuh merasa lemah. Energi pun semakin habis tak tersisa.

Dengan kekuatan do’a hanya empat hari Wardah bisa memulihkan kondisi fisiknya, jiwa yang lemah mudah sekali untuk digoda.

Sejak kejadian itu Wardah bisa melihat makhlus halus, tidak sekedar bayangan, sudah seperti melihat manusia akhirnya terbiasa.

Manusia adalah makhluk yang sempurna,makhluk astral akan masuk bila kondisi fisik kita lemah, semakin kita lemah semakin makhluk tersebut menghisap energi.

Rasa takut hanya ada dalam pikirankuatkan iman perbanyak sedekah dan selalu mengingat-Nya, dalam kondisi apapun berzikirlah  dengan Asma Allah. (NH)



Dikisahkan oleh keponakan saya, bisa melihat makhluk astral saat usianya 23th.

Masih kurang dapat horornya,  mencoba tantangan Meradio,

Maafkan saya masih belajar dalam menulis.

#Keep smile&Istiqamah

Jakarta, 251018

Kamis, 16:51





Tidak ada komentar:

Posting Komentar