
Maruko Kembali Tersenyum Atas Desakan Sang Ibu
Maruko masih menyimpan bara api di dadanya, niat membalas Hamaji pun siap dilaksanakan.
"Marukooooo ..., " teriak Sumire Sakura, Ibu Maruko yang terkenal dengan keiritannya.
"He ... ibu! kau selalu mengganggu saja, tidak boleh anaknya senang sedkit," sahut Maruko yang sedang menghayal pembalasan untuk Hamaji.
"Cepat! ada telepon dari Hamaji."
Maruko enggan melangkah dari kamarnya, apalagi setelah tahu Hamaji yang menelpon, tetapi atas desakan ibunya dia keluar kamar juga.
"Ibu ... tolong bilang kepada Hamaji, aku sedang ke rumah Tamae."
"Ibu kau suruh berbohong ...! Dengan bara api disekujur tubuhnya, Maruko pun langsung menerima telpon.
Wahai pipi yang kemerahan
Wajahmu bulat bagai bola
Rambut bergaya helm
Bila kau tersenyum seperti Kuda
Alangkah bahagia hatiku melihat goresan itu
Maruko ...
Kenapa kau tidak mau memaafkan aku
Betapa keras hatimu
Maafkanlah diriku ....
Cicak-Cicak di dinding
Diam-diam merayap
Cicak karet kulempar
Cembetut yang kau balas
Lihatlah Tamae
Dia begitu manis
Senyumnya begitu rupawan
Bisakah kau seperti dia
Ichi ... Ni ... San ...
Odaijini
Bahagialah selalu
Aku merindukan senyummu itu
Beruntung Maruko tidak mendengarkan telpon dari Hamaji ... puisinya malah menambah kemarahannya.
Hamaji ... Hamaji ... begitu polosnya dirimu.
***
Tamae mendengarkan pembalasan yang akan dilakukan Maruko. Dia memang sahabat yang baik selalu mendukung keputusan Maruko, meski selalu bertolak belakang dengan keinginannya.
"Maruko, apakah tidak baik kau melakukan pembalasan kepada Hamaji?"
"Tenang Tamae, kau menjadi penonton saja ... oke!" dengan senyum sinisnya.
Ternyata Hari pembalasan sirna, Hamaji terserang flu sehingga dia tidak masuk ke sekolah. Maruko pun menjadi suntuk semua yang direncanakannya gagal total.
"Tamae ... bolehkah aku bawa ular karet ini?"
"Buat apa Maruko ... ? nanti kalau ibumu tahu, kau bisa dimarahi," sahut Tamae dengan suaranya yang begitu lembut.
"Bisa diatur itu Tamae. he ... he ... he .... "
Lagi-lagi Tamae menuruti apa yang diminta Maruko.
***
Ibu memeriksa tas Maruko dan menemukan ular karet tersebut. Rumah pun menjadi gempa bumi, mendengar teriakannya.
"Oh ... tidaak! benar kata Tamae, kau memang selalu benar, huff."
Keluarga pun berkumpul, Sakiko, kaka Maruko ikut memarahinya, hanya kakek yang merasa sedih melihat Maruko.
Maruko dan ibunya pergi ke rumah Hamaji, agar dirinya mau memaafkan temannya itu.
"Ingat apa janjimu tadi Maruko, kalau kau tidak tersenyum, uang jajan selama seminggu tidak ibu berikan!"
"Iiyaa ibu," sahut Maruko ... di otaknya hanya uang jajan yang dipikirkan.
Mereka disambut hangat oleh keluarga Hamaji, dia yang sedang sakit senang atas kedatangan Maruko.
"Kalau bukan karena uang jajan,tidak rela aku memberikan senyum termanisku ini," ujar hati Maruko, ketika teringat lemparan cicak itu.
"Untung aku bawa ular karet ini," ucap Maruko yang secara diam-diam mengambil mainan tersebut dari ruang tamu.
Akhirnya Maruko berhasil balas dendam kepada Hamaji. Dia pun pingsan dibuatnya ketika membuka kantong kresek dari Maruko.
***
Di sekolah
"Maruko kenapa kamu tertawa sendiri?" tanya Tamae ketika melihat temannya begitu sumringah.
"Aku sudah berhasil membalas dendamku kepada Hamaji, uang jajan pun tetap kudapat."
"Maruko kamu ko jahat ... !" ucap Tamae yang sedih memikirkan Hamaji yang sedang sakit.
Esok harinya ketika mau berangkat ke sekolah, Maruko menunggu Sang Ibu memberikan uang jajan ....
"Mulai tujuh hari ke depan kau tidak ibu kasih uang jajan!"
"Kenapa ibuuu ... ?" Maruko pun memelas.
"Kamu pikir ibu bisa dibohongi! tadi di pasar Ibu Hamaji mengembalikan ular karet ini, kata Hamaji ... kau meninggalkannya saat kemarin menjenguknya," bentak Ibu Maruko, sulutan api berkobar-kobar di sekujur tubuhnya.
***
Memang seorang ibu tidak bisa dibohongi oleh anaknya, senyuman yang tidak tulus dan balas dendam tidak membawa hasil apa pun.
Selamat menikmati Maruko dan Hamaji!
Ikuti kisah telenovela kartun selanjutnya with Elfaza.
#Keep smile&Istiqamah
Selasa,131118
Jakarta, 14:29
Pic.youtube
Pic. Rin Muna
Odaijini ucapan teman dirawat ( semoga cepat sembuh), akhirnya malah Hamaji yang terserang flu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar