
My Wedding Anniversary: Hidup Tak Semudah Membalikkan Telapak Tangan
How are you today plukers?
Hanya kamu yang aku pilih menjadi pria sebagai kekasih, karena kamu tahu syarat apa yang kuminta pada Tuhanmu. Aku memilihmu berharap menjadi pertama dan yang terakhir dalam hidupku ... tetapi, malam itu kamu memutuskan aku, karena kesalah fahaman yang tidak kumengerti.
Hari ini sewindu lebih satu tahun kita bersama, menapaki sebuah kasih asmara hanya tertuju pada Ridha Ilahi. Sebuah mahligai baru yang kita putuskan, mengikat janji suci menggetarkan Arsy-Nya.
Sebagai anak sulung yang mempunyai tiga adik perempuan yang jaraknya tidak begitu berjauhan dan dua adik lelaki yang satu sudah pergi, dan satu masih kecil, merupakan beban moral yang harus kujalankan, mereka telah memiliki pujaan hati, sedangkan aku? hanya berteman sepi.
Meski keluarga kami bukan pekerja seni, tetapi ruang lingkup terbatasi oleh pengincar bangkai, senang sekali dengan sesuatu yang berbau daging mati. Meski hati tidak mengindahi, tetapi sangat melukai orang-orang terkasih.
Entah berapa hati yang telah kupatahkan, meski sama-sama mempunyai rasa, aku lebih memilih merahasiakannya. Hingga tanpa terasa usia kian bertambah.
Di dalam perenungan, aku selalu mengadahkan tangan apa yang diinginkan dari seorang wanita yang disebut ibu dan adik, mereka juga sudah cukup berumur untuk menyudahi akhir kisah asmaranya dan sangat tabu untuk melangkahi kakanya.
***
Robiatul adawiyah pun dia tidak menikah, lebih memilih bercumbu dengan Tuhannya, suatu alasan yang selalu kupegang, sudahlah ...! langkahi aku, tetapi hati kecil pun berontak, aku tidak mau itu terjadi ... apa kata orang, ego mulai menggelayuti.
Aku mulai berusaha untuk mengikuti tukar biodata, ta’aruf namanya, aku bukan wanita sholehah yang setuju menikah tanpa mengenal terlebih dahulu siapa yang akan menjadi imamku, lagi-lagi usaha itu pun sirna seperti biodata yang entah kemana.
Kala itu datang seorang pria untuk mengajar private di rumah, dia pun berusaha menjodohkanku dengan temannya, dengan perawakan yang subur tinggi semampai (semeter tak sampai), kami berkenalan dan itu pun berakhir seperti ilmu sempoa yang ia ajarkan.
Seorang teman pun yang mengetahui keadaanku memulai aksi ajang pencarian jodoh, aku pasrah mengikuti alurnya, pertemuan hampir gagal karena saat itu sudah lewat dari jam yang sudah disepakati.
Temanku berkata, suaminya tidak pernah gagal dalam hal menjodohkan, sudah cukup biarlah mungkin lain hari bisa bersua, akhirnya suaminya pun datang dengan seorang pria tua bersamanya, hati kecil bertanya apakah dengan dia? rasa was-was membisikkan telinga, mungkinkah--wajahnya lebih banyak kerutan dari orangtua saya, lagi-lagi ego berbicara. Tuhanku mendengar jeritan hati ini, dia pun tak pernah kudengar kabarnya lagi.
Tidak berselang lama aku pun hijrah, ke kota udang ... suasana, pengalaman, dan teman baru, bagai primadona, hati pun berbunga-bunga, mereka mengalami delusi cinta. Kuputuskan untuk menyudahinya. Aku pulang ke Jakarta tanpa harus memperpanjang masaku di sana.
Hari itu seorang yang memanggilku ninjitsu, membawa seorang pria, tatapannya bagai busur panah yang selalu memperhatikanku di depan pintu rumah sakit, saat itu nenekku sedang dirawat, hati berbisik, betapa manisnya pria itu ... andai bisa lebih lama bersamanya.
***
Suara sms masuk, entah nomer yang tidak kukenal, aku tidak pernah mengindahkan angka-angka asing yang masuk ke gawaiku, dia begitu gigih, akhirnya aku menyerah, kami berkenalan dan melabuhkan hatiku padanya. Tuhanku mendengar bisikan hati kala itu, pria yang kukenal di rumah sakit, kini menjadi kekasihku.
Hati mulai meragukannya, kabar angin telah mengacau dalam hatiku, pun dari artikel yang kubaca, apabila seseorang tidak pernah mengajak ke rumahnya harus dipertanyakan keseriusannya, saya tidak mungkin kesana, bagai tempayan samperin gayung, itu istilah bagi wanita yang datang ke rumah sang pria. Padahal terlalu dini, pertemuan kami pada bulan maret jadian pun tidak pernah aku ingat kapan dimulainya kisah kasih kita.
Ternyata memang keluarganya memegang prinsip, wanita tanpa ikatan dilarang untuk dikenalkan kepada orang tuanya.
***
Pada malam itu, hatiku kamu buat pecah berkeping-keping, perkenalan enam bulan harapan kamu menjadi yang terakhir pupus sudah. Malam itu saat kusedang di tempat kursus daerah tebet, ada telpon, katanya saya dan keluarga sudah di jalan untuk datang ke rumah.
Kamu benar-benar membuatku kaget, tanpa persiapan, dia melamarku, memutuskan sebagai kekasih lalu meminangku sebagai istri. Perkenalan kita baru enam bulan, pertemuan pun jarang.
Setelah sembilan bulan janji suci dilaksanakan, hari itu kelahiranku adalah hari kelahiranmu, rumah kita juga saling berhadapan, Masya Allah.
Akhirnya kegelisahan orang tuaku usai dan adik-adikku bisa bernafas lega, setelah satu keluar, satu demi satu adikku juga melepas masa lajangnya. Kini tinggal satu adik bontot pria masih kuliah.
Aku melangkah ke gerbang yang lebih luas, memasuki keluarga baru, alhamdulillah dapat mertua yang baik dan bijaksana. Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya, menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Aamiin.
Memang ujian hidup tidak akan pernah usai sampai roh keluar dari raga, mendengar cibiran para tetangga kapan menikah, setelah menikah kapan punya anak? ups sudah hampir 1000 kata, kapan-kapan lanjut kisahnya.
Tuhanmu tidak akan menguji hamba-Nya diluar batas kemampuan, bila yang jomlo tetap semangat, pertanyakan hatimu, orang-orang terdekatmu, hususnya orang tua kamu, apakah sudah rela melepas kesendirianmu?
Tuhanmu selalu mendengar meski itu hanya terbesit di hati.
Terimakasih yang mau membaca, tetap semangArt, jangan lupa bahagia.
#Keepsmile&Istiqamah
Jakarta, 221118
Kamis, 20:37
pic.dokumen pribadi
22112009-22112018, do’aku saat itu.
anniversary bbb