Minggu, 27 Oktober 2019

Memori Persami yang Berujung Tragedi


Memori Persami yang Berujung Tragedi

Praja Muda Karana

Ketika aku sedang melakukan pekerjaan yang membuat hati geram, karena Ibu begitu lama belanja keperluan dapur. 

Aku tersadar ada sesosok netra sedang mengarah kepadaku. Seseorang yang sedang melatih pramuka anak Madrasah Ibtidaiyah/SD. 


Dokumen Ella grup seterah


Andai Si Pembina Pramuka itu bisa kutemui setiap hari, mungkin menunggu berubah menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan.

Tatapan matanya telah memesona hati ini, aku ikut memperhatikan dia yang sedang melatih anak-anak dengan bendera di tangannya. Dia memperlihatkan sedikit gigi putihnya ketika mengetahui netraku pun mengarah padanya.

"Sudah Mah? Ada yang kelupaan tidak?" Ucapku kepada Ibu yang sudah selesai berbelanja.

"Tumben, biasanya langsung marah-marah kalau kelamaan," jawab Ibu.

Aku hanya tersenyum, berat hati meninggalkan pria yang telah meninggalkan sedikit rasa di hati ini.

Tidak setiap hari aku mengantar Ibu berbelanja, kadang Ibu kesal, karena aku selalu marah-marah, kalau kelamaan menunggu.

Aku menandai setiap hari Rabu adalah jadwal pramuka di sekolah tersebut. Biasanya aku yang enggan menemani Ibu ke pasar dan telepon genggam selalu tertinggal, kini berubah sebaliknya.

Ternyata tidak setiap jadwal pramuka harus keluar kelas, niat hati ingin mengabadikan wajah sendu ditambah paras yang membuat netra tidak ingin berpaling darinya. Aku bersabar menunggu Rabu depannya, begitu seterusnya, karena aku tidak tahu jadwal pastinya.

***

"Maaf Mba."

Aku terperanjat, ada tangan yang menyentuh bahuku.

"Aada apa Mas."

Seketika darah mengalir ke otak, jantung berirama sangat keras, peluh pun ikut keluar. Ternyata pembina pramuka yang tak pernah kukenal namanya, telah tepat berada di depanku.

Aku yang sempat kecewa tidak bisa bertemu dengannya, berubah 180 derajat. Dengan basa basi, dia menawarkan pekerjaan sebagai pembina pramuka, sebagai asistennya.

Tanpa ragu aku langsung mengiyakan, kami saling bertukar nomor ponsel, untuk mengabarkan kapan aku mulai mengajar.

Akhirnya aku tahu siapa namanya, setelah dua bulan menjadi pengagum rahasianya. 

"Siapa tadi? Lumayan tampan" Tanya Ibuku sedikit meledek.

"Ya ampun Mah, segitu gantengnya dibilang lumayan, seneng banget deh Mah, dia nawarin pekerjaan jadi guru Pramuka."

"Kamu terima?"

"Iya Mah, kapan lagi biss …." Lidahku langsung kelu, biar aku simpan rasa ini sendiri.

"Jadi ini toh yang membuat kamu semangat mengantar Mamah belanja." Dengan mencubit pipiku yang sedikit memerah. Namanya orang tua, serapat mungkin aku tutupi rasa ini, tetap ketahuan juga.

Setelah lulus kuliah, aku hanya kursus, lamaran pekerjaan pun belum ada yang lolos, meski aku tidak mengerti apa pun tentang ilmu pramuka, dua bulan memperhatikan dia mengajar, sudah cukup buatku.

Meski kutahu, gaji seorang guru jauh dari UMR, bahkan aku mengenal pembina pramuka, yang kadang upahnya tidak diberikan oleh pihak sekolah. Namun niat hati ingin mengambil keberkahan dan ada seseorang yang membuat hati ini terpincut.

Tidak perlu waktu lama aku menunggu untuk menjadi asistennya, kini setiap hari Rabu adalah hari yang begitu kutunggu, hanya sekadar ingin bersua dengannya.

***

"Bulan depan persami di Cibubur ya Ay," lirih manjanya terdengar di telingaku.

"Iya Kak Fatur, saya belum menguasai semua tentang pramuka Kak, mohon bimbingannya."

"Ok, tenang aja, aku akan terus membimbingmu sampai bisa, bahkan, kalau perlu seumur hidupmu."

Warna stroberi tidak lebih merah dari wajahku. Entah apa dia memiliki rasa yang sama? Atau aku yang mengalami erotomania

"Nanti kamu yang melatih semaphore ke anak-anak ya?"

"Semaphore? Smartphone maksud kakak?" Tanyaku begitu lugu.

"Bukannya kamu sering memperhatikan aku ketika mengajar?"

Seketika blush on berada di pipiku.

"Sandi yang menggunakan bendera itu loh."

"Oh, yang itu, yang kakak sering ajarin ke anak-anak, ok, ok, sedikit paham kalau yang menggunakan bendera ka, kalau morse dan rumput, belum begitu memahami," jawabku.

"Memang sandi morse dan rumput rada rumit, tapi ada beberapa anak yang langsung bisa," Kak Fatur menjelaskan dengan celongan di pipinya.

Sandi-sandi yang ada di pramuka begitu sukar, seperti kisah asmaraku, yang tak pernah berujung menjalin ikatan.


Sumber di sini


Kak Fatur dengan serius menuliskan sandi-sandi untukku. Dia hanya menjawab seperlunya, mungkin dia berpikir terlalu keras. Aku berhenti bertanya, biarkan dia menyelesaikan tulisannya.

"Ini tugas buat kamu," dengan senyum manisnya Kak Fatur memberikan secarik kertas bertuliskan sandi rumput.

"Hanya 15 huruf? Banyakan yang belum kak, A-Z, ini baru A sampai O."

"Pokoknya kamu harus cari kode ini, jangan sampai lupa!" 

"Ok, siap kak."

***

Hari persami telah tiba, tiga mobil diberangkatkan. Kami memandu anak kelas 4-6 dengan dibantu kakak pembina dari sekolah lain, guru-guru pun ikut bersama kami.

Ini hari pertama aku akan bermalam bersama seseorang yang membuat hidupku tidak hanya monokrom. 

Ka Fatur tersenyum kepadaku dan langsung bertanya, "Sudah dikerjakan sandi yang kakak kasih?"

"Sandi? Ya ampun Kak, maaf lupa, tapi tenang aku udah download kok, semua sandinya." 

Kekecewaan terlihat di wajahnya.

"Ayo anak-anak, baris yang rapi, 15 menit lagi kita berangkat," instruksi Ka Fatur.

Para pembina dari sekolah lain pun sudah pada berkumpul, aku berusaha agar bisa menjadi asisten Kak Fatur yang smart.

Anak-anak penuh semangat, dengan seragam coklatnya, bernyanyi dengan yel-yel pramuka. Aku sibuk mencari kertas yang diberikan Kak Fatur, meski sudah lecek, tetapi tulisannya masih jelas, segera aku kerjakan, agar muka masam yang ditunjukkan kepadaku berubah.

Seketika burung bernyanyi, daun-daun tersenyum, dan langit pun menurunkan hujan bunga di tubuhku. Aku tidak bisa menutupi kegembiraan hati ini, setelah menyelesaikan sandi darinya.

Aku dan Kak Fatur berlainan mobil, ketika mobil kami berdekatan, segera kutunjukkan kertas berisikan kode rumput darinya, akhirnya Kak Fatur bisa melepaskan plester dari bibirnya, terlihat tulang pipi yang merona.

Kesibukan membuat tenda, mengatur anak-anak, persiapan untuk api unggun, dan lain-lain, membuat kami tidak ada kesempatan untuk membahas isi dari sandi rumput tersebut.

Acara yang mendidik anak untuk mandiri sejak dini, melatih ketangkasan, dan jurit malam yang sangat melatih mental mereka. Aku begitu senang berada di dalamnya dan sebagai pembina adalah pengalaman sangat baru untukku.

Dalam acara api unggun, Kak Fatur tidak luput untuk segera mengambil kesempatan, dia memegang erat tanganku, dan berkata, "Apakah kamu memiliki rasa yang sama denganku?"

Aku tidak bisa memberi tabir akan rasa ini, hanya isyarat tundukkan kepala dua kali, jawaban dari pertanyaan. Rasanya Inginku menjerit, "Aku sudah tidak jomlo."

***

Sedang menikmati kesyahduan malam, serupa candle light dengan api unggun yang masih menyala sedikit redup, anak-anak pun telah beristirahat setelah melakukan jurit malam, tiba-tiba terdengar kegaduhan dari salah satu tenda putri. 

"Kenapa? Ada yang kesurupan kah?" tanyaku dengan lugu, mindset di otakku, setiap perkemahan di tengah malam yang terjadi adalah kerasukan.

"Dia terkena hipotermia," jawab Sari pembina pramuka dari sekolah tetangga.

Kak Fatur langsung bergegas meninggalkan kami untuk kembali, "Tolong selimuti dengan ini."

"Apa ini kak?" Aku sangat panik, pembina yang lain sudah terbiasa menangani kondisi seperti ini.

"Selimut alumunium foil, ini sangat ampuh menstabilkan suhu tubuh, selain diberikan yang hangat-hangat, apabila baju basah segera diganti," lirih Kak Fatur kepadaku.

***

Keadaan semuanya kembali normal, meski ketegangan membuat jantungku berdebar dengan keras, energi habis terkuras. 

"Kamu tidak apa-apa Cahaya?" Tanya Kak Fatur.

"Lemes kak, aku baru tumben mengalami kondisi seperti ini, kenapa bisa Dea mengalami hipotermia?"

"Nanti kamu akan terbiasa, hipotermia bisa saja terjadi, apalagi dalam cuaca dingin seperti ini, mungkin, tadi dia tidak ganti baju sehabis jurit malam, di cuaca dingin, terlalu lama memakai pakaian basah, ditambah kelelahan, sehingga kondisi suhu tubuh Dea turun 35°c, btw kapan-kapan ikut aku naik gunung ya, Sari juga ikut loh."

Hati ini teriris ketika dia sudah memakai kata "aku" tetapi membicarakan wanita lain.

"Kamu cemburu?" Goda Kak Fatur.

"Ugh … sakit." Teriak Kak Fatur.

"Sudah ah Kak, jangan membuat aku malu."

"Tunggu Kak, maaf, ada apa di kerah baju Kakak? sebentar jangan bergerak." Aku segera mengambil binatang itu, tetapi berhasil terbang, ada rasa sakit tertinggal di jari ini.

***

Kebahagiaan yang tidak pernah aku lupakan, sandi rumput yang dia berikan masih tersimpan rapi, meski agak kusut, tetap terbingkai rapi di kamarku. Sandi yang bertuliskan "Aku Cinta Kamu Aya" bukti saksi cinta kita.

Meski hanya satu hari kisah asmara kita, memori persami menjadi kenangan yang abadi, karena aku dan kamu sudah bahagia di alam-Nya.

Cahaya dan Fatur, mengalami gigitan serangga yang mematikan, hanya butuh waktu sembilan jam, nyawa mereka melayang.

The End.

Kisah ini hanya fiktif belaka, apabila ada nama, tempat, dan kejadian yang sama, tidak ada unsur kesengajaan.

Terimakasih yang sudah membaca




Keep smile and istiqamah.


Saran dan kritik dengan cara baik.


Jakarta, 11 Agustus 2019

Minggu, 09:15









Minggu, 20 Oktober 2019

[cerpen] Kamupelase (end)

Ada Apa dengan Ray [End]

Kumpulan Cerpen Hijrah


Sumber di sini


Kamupelase


Quote:

"Tidak pernah terlintas di benakku akan menikah dengan seseorang yang tak pernah kukenal."


"Intan, Nit, masih bolehkah aku memanggil nama itu?"

Dengan perlahan Intan membalikkan badannya.

"Raay!" Rona kebahagian pun terpancar, pelangi kehidupan mewarnai langkah mereka, tabir itu pun terbuka, tidak ada lagi rasa malu yang menghalau, Intan melompat dan langsung memeluknya.

"Mengapa bisa? aku tidak percaya dengan semua yang kulihat, kau pun tahu aku seperti apa, ini benarkan kau?" Sentuhan tangan lembut Intan mendarat di pipi Ray.

"Iyaa istriku sayang," jawab manja Ray, diikuti cubitan di hidung bangir istrinya.

"hehe, kau jauh berubah, apakah ini nyata Jak." Intan tak mampu membendung derasan air dari kelopak matanya meski dia berusaha untuk menahannya.

"Jangan panggil aku Jak, namaku Ray!"

Tiba-tiba suasana hening, semilir angin ikut menyambut kebahagian mereka yang hanya saling bertatapan, bersyukur bahwa takdir-Nya begitu indah.

"Kadangkala sifat keingintahuan manusia tidak bisa dihalangi oleh ego, kita harus membentengi diri dengan iman, seperti kita, 2 remaja yang selalu terbawa arus." Ray membuka kalimat, ditengah kebisuan sesaat.

"Jika kita tidak pernah berbuat salah, atau tahu apa yang terjadi saat itu, mungkin kita tidak akan seperti ini, bahkan jauh lebih buruk," ucap Ray, yang menatap Intan penuh kehangatan, kerinduan yang sangat mendalam.

"Ternyata kamu pandai berkamuflase atau kamu memang Kamupelase (Kamu Pecinta Lelaki -Sejenis)." Goda Intan yang kembali 180 derajat ke sifat aslinya.

"Jangan kau berprasangka seperti itu sayang, itu tidak baik, kadang prasangkamu merupakan do’a untukku, bahkan aku tidak mengenal siapa aku sebelum kejadian itu," Ray menanggapi.

"Maafkan aku ya Ray, sebenarnya malam itu kamu tidak merenggut apapun dariku, setelah kutitipkan surat dibiodataku kepada ayah, kuberanikan diri untuk ke dokter, aku tak pernah mengkonfirmasi lagi, pikirku bila memang jodohku, mencintai aku karena-Nya, dia tidak akan melihat bagaimana masa laluku, tapi kau tetap maju dan segera melamarku, curang!ternyata kau sudah tahu itu aku." Dengan cubitan mesra mendarat di pinggang Ray.

"Siapa suruh, kamu tidak mau melihat biodataku dulu!" Lanjut Ray.

"Ih," lirih manja Intan, sambil mencubit pinggang suaminya. "Lalu, bagaimana dengan orang tuamu?"

Ray belum sempat menjawab pertanyaan Intan, terdengar suara ketukan dari luar.

The End.



"Kita tidak akan menjadi baik, bila kita tidak pernah  berbuat salah, bukan berarti menjadi baik harus dengan berbuat kesalahan." Cahaya

Terimakasih yang sudah membaca




Keep smile and istiqamah.


Saran dan kritik dengan cara baik.

Kisah ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan cerita, nama, adalah tanpa ada kesengajaan, ini murni dari imajinasi saya, yang mungkin terinspirasi dari film-film yang saya tonton.

Jakarta, 01 Oktober 2019
Selasa, 22:59


[cerpen] Kamupelase Part 4


Ada Apa dengan Ray [Part 4]


Kumpulan Cerpen Hijrah


Sumber foto

Dengan pertimbangan yang cukup lama, hasil sujud di sepertiga malamnya, teringat atas kesalahan yang pernah dilakukan, dan selalu terbayang dengan wajah nenek dan ibunya yang sangat menginginkan seorang cucu, sajadah menjadi saksi atas kebisuan Intan selama ini. Sudah berapa bulir-bulir bening yang dikeluarkan.

*******

"Ayah, tentang pembicaraan kita waktu itu, Intan setuju untuk dijodohkan, meski Intan berat bila nantinya akan meninggalkan ayah, Intan percaya akan pilihan ayah dengan syarat pernikahan hanya diadakan oleh keluarga inti, tidak ada resepsi dan Intan hanya ingin bertemu dengannya setelah ijab Kabul."

Meski agak berat memenuhi permintaan Intan, akhirnya sang ayah menyetujuinya. Melalui proses ta’aruf, dengan perantara guru spiritual sang ayah, hanya dalam waktu 2 minggu diputuskan  untuk melaksanakan acara pernikahan.

"Mengapa begitu cepat? tapi hati ini sudah ikhlas dengan keputusan yang mereka buat." Intan berpikir keras apakah dia telah membaca suratnya, kalau sudah kenapa malah dipercepat, apa karena kasihan dia memilihku, dia pun mengira-ngira seperti apa jodohnya." Suara hatinya tak pernah berhenti dengan pertanyaan-pertanyaan.

"Nak kau tidak mau melihat biodatanya dulu." Kerutan yang memperlihatkan gigi putih dengan netra yang berbinar, terlihat kebahagian dari wajah sang ayah.

"Tidak ayah, biarlah itu menjadi suatu kejutan buat Intan, biarkan Intan mencintai karena-Nya."

Dua minggu pun cepat berlalu, tidak seperti pernikahan yang lain, acara ini cuma dihadiri keluarga terdekat saja, calon suami Intan hidup sebatang kara, ia hanya datang berdua dengan gurunya.

*******

"Sah … sah …." Do'a pun selesai dipanjatkan.

Usus terasa dipelintir, perut sudah tidak nyaman dan gas pun tak mampu ditahan. Air mata Intan tak mampu ditepis, antara bahagia dan rasa tak percaya, obrolan dengan Ray dulu, ingin memiliki suami seorang penghafal Al-Qur'an pun terwujud.

"Apakah ini nyata Tuhan, memang benar janji-Mu, orang yang baik akan mendapatkan yang baik pula, Kau tidak pernah melihat masa lalu seseorang, hingga dia benar-benar bertobat mengakui kesalahannya."

Terdengar ketukan pintu dari luar

"Nak, tolong buka pintunya, kau tidak mau keluar melihat suamimu."

Intan segera bergegas menghapus air matanya, dan menggunakan cadarnya kembali.

Dia pun kaget, ada pria bertubuh atletis bersama ayahnya, kenapa ingatannya kembali ke Pak Nathan.

"Suamimu mau duha terlebih dahulu, lakukanlah bersama-sama, setelah itu barulah kalian keluar."

Degupan jantung, irama nadi pun terasa menari, tidak bisa di kendalikan apabila musik dilantunkan, dengan spontan Intan mencium tangan suaminya.

"Apakah kamu sudah membaca surat yang kutitipkan kepada ayahku? mengapa kamu tetap bersedia memilih aku? " dia pun tak berani menatap wajah suaminya, hanya melihat dari celah cadar, yang terlihat olehnya, rambut yang tumbuh diatas janggutnya, dengan sedikit gondrong,  ribuan pertanyaan Intan lontarkan, suami Intan hanya meletakkan kotak berwarna pink di meja rias dan langsung pergi untuk berwudhu.

Setelah selesai, suami Intan memberikan kotak tersebut, dan dia pergi ke balkon. Dengan pelan Intan membukanya, untuk sekian kalinya dia terkejut.

"Apakah aku berada dalam hayalku? Apakah aku telah mencintai sahabatku yang telah tiada." Sesekali Intan menabok pipinya.

"Ray setelah kutahu kejadian itu?  Apakah Engkau mendatangkan rasa ini untuknya, setelah 10th? haruskah, disaat aku sudah menjadi suami orang,  rasa ini, perih ini!" Hati Intan pun tak berhenti-henti dengan seribu pertanyaan terhadap Tuhannya.

"kenapa!" Sesekali mengelap butiran bening yang terjatuh, topi ini, bukankah?

Peristiwa di penginapan itu, masa kelam yang begitu pahit, dia merasakan kehilangan 2 hal sekaligus, Intan segera mengambil kacamatanya, biar dia bisa melihat jelas wajah suaminya.

"Apakah aku mengenalnya?" Intan mencoba mendekati.

Dengan perlahan kaki intan menuju balkon, terdengar lantunan ayat-ayat Alqur'an yang sedang dilantunkan oleh suami Intan.

"Merdu sekali suaranya, izinkan aku mencintainya karena-Mu ya Allah!"

Lirih Intan terdengar oleh suaminya, ketika dia hendak pergi meninggalkan balkon, tiba-tiba tangan Intan disambar.

Bersambung

Quote:


Terimakasih yang sudah membaca




Keep smile and istiqamah.


Saran dan kritik dengan cara yang sopan.



Kisah ini hanya fiktif belaka, apabila ada nama, tempat, dan kejadian yang sama, tidak ada unsur kesengajaan.

Jakarta, 29 September 2019

Minggu, 23:51


[cerpen] Kamupelase Part 3

Ada Apa dengan Ray (Part 3)

Kumpulan Cerpen Hijrah



Dokpri


"Ray … Ray …!" Air mata tak mampu dicegah, Intan terus membangunkan Ray.

"Hhh …." Sambil memegang dahinya, Ray tampak lusuh, kepalanya cenat cenut, terasa ada gunung di atasnya.

"Apa yang kita lakukan semalam Ray, tak seharusnya ...? arghh, kenapa lu bersembunyi dalam raga Ray, bagaimanapun kau tidak bisa menyalahkan kodrat sebagai pria!" Amarah Intan memuncak.

"Nit …!"

"Jangan panggil gue Nit, nama gue Intan!" Darah Intan bergejolak, otaknya panas tak mampu tuk berpikir.

Ray belum sadar sepenuhnya, bicaranya pun masih ngawur.

Intan merasa percuma ngomel-ngomel, menghabiskan energi. Intan langsung bergegas membersihkan raga, dia merasa begitu kotor.

***

Ray sudah mulai tersadar, melihat keadaannya seperti bayi yang baru dilahirkan. Dia segera mengambil pakaiannya dan langsung membasuh wajahnya di wastafel.

Hanya terdengar gemericik air dari dalam, entah berapa lama Intan berada di dalam. Ray mengetuk pintu kamar mandi, dengan keadaan masih lemas.

"Nit … Nit, tolong buka pintunya Nit, maafin gue." Ketukan demi ketukan Ray, tidak Intan hiraukan.

Terdengar suara tangisan dari dalam membuat hati Ray semakin sakit.

"Tolong buka pintunya Nit." Ray pun ikut menangis, kepalanya dibenturkan ke pintu kamar mandi.

Hanya tinggal penyesalan diantara mereka, hanya karena minuman bisa membuat orang yang disayanginya ternoda, pikiran Ray kacau, perasaannya nano nano, sudah jatuh tertimpa tangga pula.

"Seumur hidup mengenalmu tak pernah satu air mata pun jatuh, bahkan disaat mama menamparmu …? apa yang aku lakukan! Dengan terisak Ray terus menyalahkan dirinya.

Tidak ada sedikit pun memori tentang kejadian semalam.

"Nit, tolong buka Nit, sudah berapa lama kau di dalam, nanti kau sakit." Bujuk Ray.

Kota Malang yang begitu dingin tidak membuat Intan beranjak dari kamar mandi, dia merasa begitu kotor.

Ray mencoba untuk mendobrak pintu, berbarengan Intan membuka, secepat kilat dia mengeles, akhirnya Ray pun tersungkur.

"Nit! tunggu! mau kemana?"

Tak terdengar satu kata pun yang terucap dari bibir Intan, yang terlihat begitu menggigil.

Ray hanya melihat Intan pergi, dia tak kuasa mengejarnya, keadaannya begitu kacau, ditambah pukulan Intan yang membuatnya semakin tidak berdaya.

Ray sudah tahu betul, bila Intan sudah tak berkata dia sudah tak mau kenal dengan orang itu lagi.

***

Sejak saat itu Ray dan Intan tak pernah berhubungan, terakhir Intan mendengar kabar dengan ciri-ciri seperti Ray ditemukan tewas bunuh diri, yang membuat hati janggal dia bertato.

"Peduli jangkrik! Pak Nathan pernah mencoba mencium gue, gue langsung hapus contact dalam ponsel." Meski hati Intan sedikit sakit, merasa kehilangan orang yang paling dekat dengannya, tapi rasa bencinya begitu besar.

Sejak saat itu Intan mengambil keputusan untuk pindah ke rumah neneknya. Intan anak yang kuat meski dalam keadaan emosi dia tidak ingin menghardik orang tersebut, dia tetap melakukannya dengan cara elegan.

***

Tidak terasa 10 tahun sudah Intan tak pernah mendengar apa pun tentang  Ray. Dia memberanikan diri untuk pulang ke rumahnya.

Semakin bertambahnya usia Intan sudah cukup dewasa menyikapi masalah, ketika dia berada di rumahnya kenangan tentang Ray yang sudah lama terkubur bangkit kembali.

"Tidak seharusnya aku berlaku kasar padamu Ray, karena saat itu kita sama-sama tak sadar, betapa egoisnya aku, disaat itu kau sedang terluka, aku pun ikut menaburi lukamu dengan garam, apakah kau benar-benar melakukan perbuatan keji itu? aku juga salah saat itu, aargh … tidak seharusnya aku ikut minum, hanya ingin mengobati rasa penasaran ini." Batin Intan terus mengoceh diikuti buliran bening yang tak dapat dicegah untuk keluar.

"Intan … kesini Nak."  Intan tersadar atas lamunannya.

"Ya  Ayah, tunggu sebentar."

"Anakku, usiamu sudah mau memasuki angka 3, kau anak tunggal, apakah kau tidak ingin memberi ayah cucu?" Intan hanya diam seribu bahasa, tanpa sadar manik berbinar kembali.

"Bicaralah Nak, apa yang kau pendam selama ini?"

Intan tak mampu berkata-kata lagi, dia sangat pandai menyembunyikan dukanya. Ayah Intan tidak memaksa apa pun apa yang Intan sembunyikan.

Intan berubah 180 derajat sejak kejadian tersebut, dia lebih menutup diri bagi kalangan luar, meski nenek dan orangtua selalu ingin menjodohkannya.

Bersambung

Terimakasih yang sudah membaca




Keep smile and istiqamah.


Saran dan kritik dengan cara yang sopan.


Part 1

Part 2
***

Nb. saat emosi tidak harus dengan kata-kata memaki.

Jakarta, 15:19
Selasa, 24 September 2019

Cerita ini hanya fiktif, apabila ada kesamaan nama dan cerita tidak ada faktor kesengajaan


[cerpen] Kamupelase Part 2

Ada Apa dengan Ray? (Part 2)

Apakah Dia Seorang Maho?


Spoiler for dokpri edit with kolase




Sekarang tak ada lagi, "ada Ray ada Intan". Mereka terpisahkan antara Jakarta dan Yogya, mereka hanya dipertemukan saat liburan semesteran, itu pun mereka habiskan untuk traveling.

Liburan semester pertama Ray dan Intan melanjutkan travelingnya ke Malang. Kali ini mereka menggunakan pesawat, sampailah di kota Malang untuk kedua kalinya.

Sambil menghirup Napas, hembusan angin menyapu rambut Ray yang panjang sebahu. Intan tetap dengan rambut style Nike Ardilla, yang panjangnya tidak lebih di bawah telinga, tetap dengan topi khas mereka.

Quote:"Kita nginap the villa batu aja ya Jak!"

"Oh ya Nit, pa Nathan ngg marah lu hang out sama gue."

"Ditanya apa, jawabnya apa, tenang bro kita sampai saat ini belum jadian, banyak banget cewek yang suka sama dia, lagi pula gue belum jatuh cinta, cuma sekadar mengagumi 'pelatih dan murid' that its, gue suka banget sama tubuhnya yang atletis, Jojo tak ada, Pak Nathan lah sasarannya, eh kenapa lu tumben-tumbenan nanyain dia, apa jangan-jangan lu naksir dia ya," gurau Intan.

"Bagaimana ya Jak, gue biar pun tomboy gini, ibadah gue juga masih bolong-bolong, kepengen dapat jodoh seorang penghafal Al Qur'an, yang Sholeh."

Intan yang selalu banyak cerita, suasana menjadi hening, hanya suara klakson yang terdengar, mereka menghayal dalam pikirannya masing-masing.

Quote:"Ah … mana mungkin yah? temen gue kemarin baru nikah, sama-sama penghafal, lah gue cuma hafal surat yang pendek-pendek, pastinya mereka menginginkan yang selevel." Kepala Intan sambil bersandar di bahu Ray.

Ray selalu menjadi pendengar yang baik dan selalu menerawang jauh ke dalam cerita Intan.

Kurang lebih satu jam perjalanan, dari bandara ke penginapan, sampailah mobil mereka ke tempat tujuan.

***

Quote:"Jak, bukannya itu mobil nyokap lu!"

"Mana ...? iya benar, ngapain dia di sini, katanya mau meeting." Jak segera menuju penginapan di tempat mobil bmw hitam terparkir.

Intan menarik tangan Ray.

Quote:
"Jak, sabar, jangan dulu, baru juga sampai." Intan menarik lengan Ray.

"Mana janji lu Nit, katanya kalau ketemu lu mau tendang tu orang, nih kesempatannya."

'Masih inget aja lu Jak, aduh, gue nggak mau ribut di kampung orang, gue kan ngomong kaya gitu ngg serius.' Intan berbicara terus di dalam hatinya.

pret … brot … ces …

Jak sudah paham betul apa yang Intan alami,

Quote:"Ih, kenapa harus nervous si lu Nit? Orang tomboy kaya lu jago silat, apa yang lu takutin."

Intan kadang bingung tiba-tiba Ray menjadi singkong yang keras, Ray sudah tidak memperdulikan segala ocehan Intan, Dia sudah gerah dengan kelakuan ibunya.

"Tok … tok ...."

Ketukan Ray terdengar begitu nyaring di telinga. Dia memegang gagang pintu dan terbuka, ternyata memang tidak dikunci.

Kami menyelusuri ruangan, terdengar candaan mesra di dalam kamar,  mereka kaget melihat kami, secepat kilat merapikan pakaiannya.

Quote:"Ra Ray … ngapain kamu disini?" Sambil merapikan rambut yang agak acak-acakkan, Ibu Ray berusaha menjelaskan, dengan menatap tajam ke arah Intan. Dia menyalahkan Intan atas kejadian ini.

"Plak … tamparan Tante Lia mengenai wajah Intan, dengan makiannya, Intan yang sedang melamun tak sempat menangkis tamparan Ibu Ray.

"Perempuan nggak jelas! sejak bergaul dengan kamu, Ray jadi semakin berani." Tamparan ke 2 ingin mendarat ke wajah Intan, secepat kilat Ray menangkisnya.

"Ray, kau sudah jadi anak durhaka! masih belain perempuan nggak jelas ini." ujar Tante Lia, dengan menunjukkan jarinya ke arah wajah Intan, Intan selalu memanggil mama Ray dengan Tante Lia.

Ray dengan cepat menarik tangan Intan, Ray hanya terdiam membisu ketika melihat pria itu, dia langsung pergi tanpa mengucap satu kata pun.

Intan terus mengikuti langkah Ray, dia melihat Ray begitu terpukul, tanpa henti, dia memasuki angkot berwarna jingga, yang tidak tahu kemana tujuannya.

Ray hanya bersandar di bahu Intan, diam seribu bahasa, penumpang lain menatap tajam mereka.

Quote:"Ancen, wong kutho ra nduweni toto kromo, ora roh wayah."

"iki seng ndi seng lanang, sing ndi seng wedok?

Mereka tidak memedulikan orang disekelilingnya, lagi pula Intan tidak mengerti ucapan mereka, lain dengan Ray 6 bulan cukup baginya mengerti bahasa jawa, meski dia belum bisa mengucapkannya.

Quote:"Neng, mau kemana?

Supir angkot mengerti kami bukan dari daerahnya, tidak terasa angkot kami sudah sampai terminal.

Quote:"Jak, kita pulang ke Jakarta lagi apa tetap mau disini".

"Jak, hei Jak, sambil menggoyangkan bahunya."

"Kita terusin aja liburannya, tapi nanti kita ke penginapan nyokap gue lagi." Kepala Ray seperti di lem, tidak bergerak dari bahu Intan, tetap dengan tatapan kosongnya.

"Ngapain kita ke sana, paling nyokap lu Uda pergi, kita cari penginapan lain lagi ya?" Bujuk Intan, sesekali mengusap kepala Ray.

"Nggak usah!"

"Neng … neng." Supir angkot memotong pembicaraan Intan dan Ray.

"Iya bang, kita ikut lagi ke penginapan batu."

"Tapi lama Neng, nunggu penumpang lain."

"Iya nggak apa-apa bang," sahut Intan, sambil berbicara sendiri dalam hatinya, "Kenapa Ray jadi berubah galak gini ya, nggak pengecut lagi, liburan yang seharusnya menyenangkan tapi … sambil menghela nafas panjang."

Intan mengelus pipinya, yang rada memerah bekas tamparan tadi, ternyata Ray memperhatikan.

Quote:"Maafin nyokap gue ya Nit ...."

"Eh iya Jak, tenang aja, kalau gue ikut-ikutan emosi, urusannya bisa gawat, ibu lu bisa masuk rumah sakit, gue masih menghargainya, bagaimanapun dia ibu dari sahabat gue."

***

Ternyata mobil bmw yang terparkir sudah tidak ada.

Quote:"Nyokap lu uda pulang kan Ray ...."

Ray tetap melangkah ke penginapan tersebut, ternyata ibu Ray pergi tanpa pamitan dengan pemilik villa, pintu yang tidak terkunci, dan dengan kunci yang tergantung, Intan hanya duduk di sofa empuk berwarna coklat tua.

Ray pergi ke dapur, melihat apakah ada sesuatu yang bisa menghilangkan penatnya, ternyata masih terdapat bawaan ibu Ray, dia membuka kulkas, Ray mengambil 2 botol minuman.

Quote:"Temenin gue minum Nit."

"Jak come on, inikan ...? Dengan menunjukkan botol minuman tersebut.

Ray tidak menghiraukan ocehan Intan, diteguknya minuman tersebut, dia mulai ngaco.

Quote:"Tahu nggak lu Nit, nyokap gue bener-bener keterlaluan, sepupu gue diembat juga, dia tuh baru kelas 1 SMA, aargh ...." Ray begitu gusar, dia menendang bawah meja.

Intan baru mengerti kenapa Ray hanya diam seribu bahasa. Ray tetap menyodorkan minumannya kepada Intan, akhirnya Intan tergoda untuk meminumnya.

Quote:"Mungkin kalau seteguk tidak akan bawa pengaruh apapun" batin Intan.

***

Quote:"Raay … bangun, Raay ...."


Intan menangis dengan teriakan memanggil nama Ray, dipukul ditendangnya Ray bertubi-tubi, dia terlupa dengan sebutan "Jak".

Apa yang terjadi dengan Ray?

bersambung. 

Part 3 di sini

Terimakasih yang sudah membaca


Keep smile and istiqamah.


Kritik dan saran dengan cara yang sopan.





Kisah ini hanya fiktif belaka, apabila ada nama, tempat, dan kejadian yang sama, tidak ada unsur kesengajaan.

Cerpen ini pernah tayang di platform tetangga dengan judul Kamupelase, dan cerpen pertama saya dengan segala kekurangan tanda bacanya

Jakarta, 18 Agustus 2019
Minggu, 23:51

[Cerpen] Kamupelase

Ada Apa dengan Ray?

Apakah Dia Seorang Maho

Spoiler for dokpri edit with kolase

Quote:

Ray bagai sebuah singkong yang begitu keras. Akan tetapi, tiba-tiba dia menjadi tapai, entah masalah apa yang menjadi ragi dalam hidupnya, sehingga membuatnya begitu lembek.

Quote:

"Intan …." Dengan suara agak berat, menahan rasa isak.

'Betapa cengengnya kau Ray!' Lidahku keluh bila berhadapan dengannya, ceplas-ceplosku hilang bagai embun di siang hari.

Quote:

"Mom!"

"Kenapa dengan mom Ray?" Darah Intan mengalir ke otak, nafasnya pun ikut tidak teratur, dengan telapak tangan meremas bahu Ray.[/I]

"Dia bersama pria seumuran denganku, mereka bercanda gurau, entah apa yang mereka lakukan di dalam kamar".

Curhatannya selalu tentang Ibumu, bergonta ganti pasangan, kurang baik apa ayahnya? Apakah itu yang membuatmu enggan mencintai kaum kami?

Ingin sekali memelukmu Ray, tetapi ....

Quote:

"Cup, cup sini sayang." Intan hanya meminjamkan bahu ini.

"Nanti kalau ketemu, tak tendang tuh orang,  ayo smile," goda Intan untuk menenangkan Ray.

Kadang Intan berpikir, dia bertukar tempat. Dia yang begitu tomboy, disiplin, tegas, ekstrovert, ceria, dan dia wanita. Tidak dengan Ray, dia berbanding terbalik dengan Intan.

***

Quote:

"Ray, Lo  ikut gue dong, gabung yuk di pencak silat sekolah,(berharap bisa gabung di IPSI) ayolah emang elo nggak iri dengan couple yang dapat medali emas di ASEAN GAMES kemarin." Wajah Ray datar menanggapi, tetapi dia tetap pergi bersama Intan. (bagaimanapun Intan tak rela, dia menjadi kaum nabi luth).

Dia mengerti semua maksud yang Intan lakukan, tetapi ini adalah permainan psikologi yang Intan pun tak mengerti, kenapa?

Itu juga yang mendorong Intan untuk kuliah jurusan psikologi.

***

Seperti pepatah ada semut ada garam, ada Ray ada Intan.

Orang-orang menyangka mereka adalah couple, Ray memang sangat nyaman dengan Intan, bahkan kelewat nyaman, kadang candaannya pun kelewat batas, sampai games "naked" mereka lakukan, semua itu dilakukan Intan hanya tuk meyakinkan dirinya.

Quote:

"Ah dia takkan pernah melirik gue sebagai kaum hawa."

***

Hari perpisahan pun tiba lima bus pariwisata siap diberangkatkan ke Malang.

WELCOME TO MALANG

Sudah menjadi kebiasaan setiap ada acara, Intan mengalami insomnia akut, resah gelisah tidak bisa tidur, dilihat dan dibuka lagi, apa-apa yang harus dibawa.

Dia selalu memainkan jari jemarinya, tertujulah pada blog trinity, blog pertama tentang travelling, tips demi tips dia pelajari, maklum waktu seminggu dalam perjalanan, meminimalisir bawaan.

Ketukan pintu disertai panggilan akrab,

Quote:

"Nit … Nat …."

Tok … tok ….

Quote:

"Tunggu!" sahut Intan, sambil menuju ke arah pintu, hal yang tak pernah lupa topi hitam dengan bordir RI.

"What! lu mau kemana Jak?" (Dipanggilnya Ray seperti itu karena wajah Ray mirip Jacob serigala di film twilight.) Dengan 2 (dua) koper dan tas ransel di belakangnya.

"Mau pindah lu! kan gue uda share tips apa saja yang harus dibawa."

"He,he, gue belum buka hp, sorry, ngantuk berat." Dengan senyum nyengir kudanya, menggaruk kepala padahal tidak ada rasa gatal, dengan topi kupluk berbordir IR.

Dengan sigap Intan mengobrak-ngabrik isi bawaan Ray, tinggal tersisa 1 tas ransel.

Quote:

"Cepet nih, bawa pulang dulu," ujar Intan, rumah Ray hanya berseberangan jalan.

"kita naik motor aja ya biar cepet".

Sambil nunggu abang ojol datang, tiba-tiba ....

"Pret …"

"Aduh gue mules lagi Jak."

"Kebiasaan sih lu Nit!"

"Uda turun temurun, nyokap gue, om gue, kalo mau pergi harus pamitan dulu sama kamar mandi, cepet ko, nanti bilang abangnya, suruh nunggu, gue kasih no hp lu ya."

"Sip," sahut Ray.

"Maaf Bang, harus nunggu."

"Iye … Neng, tadi itu pacarnya?"

Si abang ojol selama perjalanan kepoin Intan, untung perjalanan sekolahnya cuma berjarak 500 m.

***

Perjalanan yang begitu panjang, diiringi dengan nyanyian, alunan gitar, tertawa bersama melepas masa-masa smk menuju ke perguruan tinggi.

Bus pun melipir tuk ishoma (istirahat, sholat, makan), biar pun mereka tidak begitu taat, tetap menjalankan ibadahnya, meski banyak bolongnya.

Intan menarik lengan baju Ray.

Quote:

"Lah Jak, ko itu ada Jojo?"

"Mana! eitdah pedagang itu maksud loh? Kebiasaan!" Dengan memencet hidung Intan yang bangir.

"Ngagetin gue aj luh.'

"Iya, maaf, bukan ya? habis mirip banget."

Intan kalo lagi kesemsem sama orang, dari tukang somay, kondektur sampai pemulung pun bisa terlihat orang yang dia kagumi.

***

Perjalanan yang begitu panjang, akhirnya sampai juga di Malang, acara demi acara telah dirampungkan, tibalah sesi bebas.

***

Waktu seminggu cukup membuat kedekatan antara Intan dan pak Nathan, pelatih pencak silat yang tidak kalah tampan, yang selalu mengagumkan di mata Intan.

******

Quote:

"Jak lu jadi kuliah di UK?"

"Nggak tahu nih bonyok, gue sih maunya di Jogja aja, kan bareng lu."

Intan dibuat galau, dia ingin satu kampus dengan Pak Nathan.

Quote:

"Sorry Jak, kayaknya gue nggak jadi kuliah disana, gue uda buat option kuliah di Jakarta aja."

"Modus lu, bilang aja biar deket sama Pak Nathan."

"Nah tuh lu tau!"

***

Sekarang tak ada lagi yang namanya ada Ray ada Intan. Mereka terpisahkan antara Jakarta dan Yogya, mereka hanya dipertemukan saat liburan semesteran, itu pun mereka habiskan untuk traveling.

bersambung

Terimakasih yang sudah membaca

Keep smile and istiqamah.

Kritik dan saran dengan cara yang sopan.

emoticon-terimakasihemoticon-terimakasihemoticon-terimakasih

Kisah ini hanya fiktif belaka, apabila ada nama, tempat, dan kejadian yang sama, tidak ada unsur kesengajaan.

Cerpen ini pernah tayang di platform tetangga dengan judul Kamupelase, dan cerpen pertama saya dengan segala kekurangan tanda bacanya.