Ada Apa dengan Ray [Part 4]
Kumpulan Cerpen Hijrah

Sumber foto
Dengan pertimbangan yang cukup lama, hasil sujud di sepertiga malamnya, teringat atas kesalahan yang pernah dilakukan, dan selalu terbayang dengan wajah nenek dan ibunya yang sangat menginginkan seorang cucu, sajadah menjadi saksi atas kebisuan Intan selama ini. Sudah berapa bulir-bulir bening yang dikeluarkan.
*******
"Ayah, tentang pembicaraan kita waktu itu, Intan setuju untuk dijodohkan, meski Intan berat bila nantinya akan meninggalkan ayah, Intan percaya akan pilihan ayah dengan syarat pernikahan hanya diadakan oleh keluarga inti, tidak ada resepsi dan Intan hanya ingin bertemu dengannya setelah ijab Kabul."
Meski agak berat memenuhi permintaan Intan, akhirnya sang ayah menyetujuinya. Melalui proses ta’aruf, dengan perantara guru spiritual sang ayah, hanya dalam waktu 2 minggu diputuskan untuk melaksanakan acara pernikahan.
"Mengapa begitu cepat? tapi hati ini sudah ikhlas dengan keputusan yang mereka buat." Intan berpikir keras apakah dia telah membaca suratnya, kalau sudah kenapa malah dipercepat, apa karena kasihan dia memilihku, dia pun mengira-ngira seperti apa jodohnya." Suara hatinya tak pernah berhenti dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Nak kau tidak mau melihat biodatanya dulu." Kerutan yang memperlihatkan gigi putih dengan netra yang berbinar, terlihat kebahagian dari wajah sang ayah.
"Tidak ayah, biarlah itu menjadi suatu kejutan buat Intan, biarkan Intan mencintai karena-Nya."
Dua minggu pun cepat berlalu, tidak seperti pernikahan yang lain, acara ini cuma dihadiri keluarga terdekat saja, calon suami Intan hidup sebatang kara, ia hanya datang berdua dengan gurunya.
*******
"Sah … sah …." Do'a pun selesai dipanjatkan.
Usus terasa dipelintir, perut sudah tidak nyaman dan gas pun tak mampu ditahan. Air mata Intan tak mampu ditepis, antara bahagia dan rasa tak percaya, obrolan dengan Ray dulu, ingin memiliki suami seorang penghafal Al-Qur'an pun terwujud.
"Apakah ini nyata Tuhan, memang benar janji-Mu, orang yang baik akan mendapatkan yang baik pula, Kau tidak pernah melihat masa lalu seseorang, hingga dia benar-benar bertobat mengakui kesalahannya."
Terdengar ketukan pintu dari luar
"Nak, tolong buka pintunya, kau tidak mau keluar melihat suamimu."
Intan segera bergegas menghapus air matanya, dan menggunakan cadarnya kembali.
Dia pun kaget, ada pria bertubuh atletis bersama ayahnya, kenapa ingatannya kembali ke Pak Nathan.
"Suamimu mau duha terlebih dahulu, lakukanlah bersama-sama, setelah itu barulah kalian keluar."
Degupan jantung, irama nadi pun terasa menari, tidak bisa di kendalikan apabila musik dilantunkan, dengan spontan Intan mencium tangan suaminya.
"Apakah kamu sudah membaca surat yang kutitipkan kepada ayahku? mengapa kamu tetap bersedia memilih aku? " dia pun tak berani menatap wajah suaminya, hanya melihat dari celah cadar, yang terlihat olehnya, rambut yang tumbuh diatas janggutnya, dengan sedikit gondrong, ribuan pertanyaan Intan lontarkan, suami Intan hanya meletakkan kotak berwarna pink di meja rias dan langsung pergi untuk berwudhu.
Setelah selesai, suami Intan memberikan kotak tersebut, dan dia pergi ke balkon. Dengan pelan Intan membukanya, untuk sekian kalinya dia terkejut.
"Apakah aku berada dalam hayalku? Apakah aku telah mencintai sahabatku yang telah tiada." Sesekali Intan menabok pipinya.
"Ray setelah kutahu kejadian itu? Apakah Engkau mendatangkan rasa ini untuknya, setelah 10th? haruskah, disaat aku sudah menjadi suami orang, rasa ini, perih ini!" Hati Intan pun tak berhenti-henti dengan seribu pertanyaan terhadap Tuhannya.
"kenapa!" Sesekali mengelap butiran bening yang terjatuh, topi ini, bukankah?
Peristiwa di penginapan itu, masa kelam yang begitu pahit, dia merasakan kehilangan 2 hal sekaligus, Intan segera mengambil kacamatanya, biar dia bisa melihat jelas wajah suaminya.
"Apakah aku mengenalnya?" Intan mencoba mendekati.
Dengan perlahan kaki intan menuju balkon, terdengar lantunan ayat-ayat Alqur'an yang sedang dilantunkan oleh suami Intan.
"Merdu sekali suaranya, izinkan aku mencintainya karena-Mu ya Allah!"
Lirih Intan terdengar oleh suaminya, ketika dia hendak pergi meninggalkan balkon, tiba-tiba tangan Intan disambar.
Bersambung
Quote:
Terimakasih yang sudah membaca



Keep smile and istiqamah.
Saran dan kritik dengan cara yang sopan.



Kisah ini hanya fiktif belaka, apabila ada nama, tempat, dan kejadian yang sama, tidak ada unsur kesengajaan.
Jakarta, 29 September 2019
Minggu, 23:51
Tidak ada komentar:
Posting Komentar