Minggu, 20 Oktober 2019

[cerpen] Kamupelase Part 2

Ada Apa dengan Ray? (Part 2)

Apakah Dia Seorang Maho?


Spoiler for dokpri edit with kolase




Sekarang tak ada lagi, "ada Ray ada Intan". Mereka terpisahkan antara Jakarta dan Yogya, mereka hanya dipertemukan saat liburan semesteran, itu pun mereka habiskan untuk traveling.

Liburan semester pertama Ray dan Intan melanjutkan travelingnya ke Malang. Kali ini mereka menggunakan pesawat, sampailah di kota Malang untuk kedua kalinya.

Sambil menghirup Napas, hembusan angin menyapu rambut Ray yang panjang sebahu. Intan tetap dengan rambut style Nike Ardilla, yang panjangnya tidak lebih di bawah telinga, tetap dengan topi khas mereka.

Quote:"Kita nginap the villa batu aja ya Jak!"

"Oh ya Nit, pa Nathan ngg marah lu hang out sama gue."

"Ditanya apa, jawabnya apa, tenang bro kita sampai saat ini belum jadian, banyak banget cewek yang suka sama dia, lagi pula gue belum jatuh cinta, cuma sekadar mengagumi 'pelatih dan murid' that its, gue suka banget sama tubuhnya yang atletis, Jojo tak ada, Pak Nathan lah sasarannya, eh kenapa lu tumben-tumbenan nanyain dia, apa jangan-jangan lu naksir dia ya," gurau Intan.

"Bagaimana ya Jak, gue biar pun tomboy gini, ibadah gue juga masih bolong-bolong, kepengen dapat jodoh seorang penghafal Al Qur'an, yang Sholeh."

Intan yang selalu banyak cerita, suasana menjadi hening, hanya suara klakson yang terdengar, mereka menghayal dalam pikirannya masing-masing.

Quote:"Ah … mana mungkin yah? temen gue kemarin baru nikah, sama-sama penghafal, lah gue cuma hafal surat yang pendek-pendek, pastinya mereka menginginkan yang selevel." Kepala Intan sambil bersandar di bahu Ray.

Ray selalu menjadi pendengar yang baik dan selalu menerawang jauh ke dalam cerita Intan.

Kurang lebih satu jam perjalanan, dari bandara ke penginapan, sampailah mobil mereka ke tempat tujuan.

***

Quote:"Jak, bukannya itu mobil nyokap lu!"

"Mana ...? iya benar, ngapain dia di sini, katanya mau meeting." Jak segera menuju penginapan di tempat mobil bmw hitam terparkir.

Intan menarik tangan Ray.

Quote:
"Jak, sabar, jangan dulu, baru juga sampai." Intan menarik lengan Ray.

"Mana janji lu Nit, katanya kalau ketemu lu mau tendang tu orang, nih kesempatannya."

'Masih inget aja lu Jak, aduh, gue nggak mau ribut di kampung orang, gue kan ngomong kaya gitu ngg serius.' Intan berbicara terus di dalam hatinya.

pret … brot … ces …

Jak sudah paham betul apa yang Intan alami,

Quote:"Ih, kenapa harus nervous si lu Nit? Orang tomboy kaya lu jago silat, apa yang lu takutin."

Intan kadang bingung tiba-tiba Ray menjadi singkong yang keras, Ray sudah tidak memperdulikan segala ocehan Intan, Dia sudah gerah dengan kelakuan ibunya.

"Tok … tok ...."

Ketukan Ray terdengar begitu nyaring di telinga. Dia memegang gagang pintu dan terbuka, ternyata memang tidak dikunci.

Kami menyelusuri ruangan, terdengar candaan mesra di dalam kamar,  mereka kaget melihat kami, secepat kilat merapikan pakaiannya.

Quote:"Ra Ray … ngapain kamu disini?" Sambil merapikan rambut yang agak acak-acakkan, Ibu Ray berusaha menjelaskan, dengan menatap tajam ke arah Intan. Dia menyalahkan Intan atas kejadian ini.

"Plak … tamparan Tante Lia mengenai wajah Intan, dengan makiannya, Intan yang sedang melamun tak sempat menangkis tamparan Ibu Ray.

"Perempuan nggak jelas! sejak bergaul dengan kamu, Ray jadi semakin berani." Tamparan ke 2 ingin mendarat ke wajah Intan, secepat kilat Ray menangkisnya.

"Ray, kau sudah jadi anak durhaka! masih belain perempuan nggak jelas ini." ujar Tante Lia, dengan menunjukkan jarinya ke arah wajah Intan, Intan selalu memanggil mama Ray dengan Tante Lia.

Ray dengan cepat menarik tangan Intan, Ray hanya terdiam membisu ketika melihat pria itu, dia langsung pergi tanpa mengucap satu kata pun.

Intan terus mengikuti langkah Ray, dia melihat Ray begitu terpukul, tanpa henti, dia memasuki angkot berwarna jingga, yang tidak tahu kemana tujuannya.

Ray hanya bersandar di bahu Intan, diam seribu bahasa, penumpang lain menatap tajam mereka.

Quote:"Ancen, wong kutho ra nduweni toto kromo, ora roh wayah."

"iki seng ndi seng lanang, sing ndi seng wedok?

Mereka tidak memedulikan orang disekelilingnya, lagi pula Intan tidak mengerti ucapan mereka, lain dengan Ray 6 bulan cukup baginya mengerti bahasa jawa, meski dia belum bisa mengucapkannya.

Quote:"Neng, mau kemana?

Supir angkot mengerti kami bukan dari daerahnya, tidak terasa angkot kami sudah sampai terminal.

Quote:"Jak, kita pulang ke Jakarta lagi apa tetap mau disini".

"Jak, hei Jak, sambil menggoyangkan bahunya."

"Kita terusin aja liburannya, tapi nanti kita ke penginapan nyokap gue lagi." Kepala Ray seperti di lem, tidak bergerak dari bahu Intan, tetap dengan tatapan kosongnya.

"Ngapain kita ke sana, paling nyokap lu Uda pergi, kita cari penginapan lain lagi ya?" Bujuk Intan, sesekali mengusap kepala Ray.

"Nggak usah!"

"Neng … neng." Supir angkot memotong pembicaraan Intan dan Ray.

"Iya bang, kita ikut lagi ke penginapan batu."

"Tapi lama Neng, nunggu penumpang lain."

"Iya nggak apa-apa bang," sahut Intan, sambil berbicara sendiri dalam hatinya, "Kenapa Ray jadi berubah galak gini ya, nggak pengecut lagi, liburan yang seharusnya menyenangkan tapi … sambil menghela nafas panjang."

Intan mengelus pipinya, yang rada memerah bekas tamparan tadi, ternyata Ray memperhatikan.

Quote:"Maafin nyokap gue ya Nit ...."

"Eh iya Jak, tenang aja, kalau gue ikut-ikutan emosi, urusannya bisa gawat, ibu lu bisa masuk rumah sakit, gue masih menghargainya, bagaimanapun dia ibu dari sahabat gue."

***

Ternyata mobil bmw yang terparkir sudah tidak ada.

Quote:"Nyokap lu uda pulang kan Ray ...."

Ray tetap melangkah ke penginapan tersebut, ternyata ibu Ray pergi tanpa pamitan dengan pemilik villa, pintu yang tidak terkunci, dan dengan kunci yang tergantung, Intan hanya duduk di sofa empuk berwarna coklat tua.

Ray pergi ke dapur, melihat apakah ada sesuatu yang bisa menghilangkan penatnya, ternyata masih terdapat bawaan ibu Ray, dia membuka kulkas, Ray mengambil 2 botol minuman.

Quote:"Temenin gue minum Nit."

"Jak come on, inikan ...? Dengan menunjukkan botol minuman tersebut.

Ray tidak menghiraukan ocehan Intan, diteguknya minuman tersebut, dia mulai ngaco.

Quote:"Tahu nggak lu Nit, nyokap gue bener-bener keterlaluan, sepupu gue diembat juga, dia tuh baru kelas 1 SMA, aargh ...." Ray begitu gusar, dia menendang bawah meja.

Intan baru mengerti kenapa Ray hanya diam seribu bahasa. Ray tetap menyodorkan minumannya kepada Intan, akhirnya Intan tergoda untuk meminumnya.

Quote:"Mungkin kalau seteguk tidak akan bawa pengaruh apapun" batin Intan.

***

Quote:"Raay … bangun, Raay ...."


Intan menangis dengan teriakan memanggil nama Ray, dipukul ditendangnya Ray bertubi-tubi, dia terlupa dengan sebutan "Jak".

Apa yang terjadi dengan Ray?

bersambung. 

Part 3 di sini

Terimakasih yang sudah membaca


Keep smile and istiqamah.


Kritik dan saran dengan cara yang sopan.





Kisah ini hanya fiktif belaka, apabila ada nama, tempat, dan kejadian yang sama, tidak ada unsur kesengajaan.

Cerpen ini pernah tayang di platform tetangga dengan judul Kamupelase, dan cerpen pertama saya dengan segala kekurangan tanda bacanya

Jakarta, 18 Agustus 2019
Minggu, 23:51

Tidak ada komentar:

Posting Komentar