Minggu, 20 Oktober 2019

[cerpen] Kamupelase Part 3

Ada Apa dengan Ray (Part 3)

Kumpulan Cerpen Hijrah



Dokpri


"Ray … Ray …!" Air mata tak mampu dicegah, Intan terus membangunkan Ray.

"Hhh …." Sambil memegang dahinya, Ray tampak lusuh, kepalanya cenat cenut, terasa ada gunung di atasnya.

"Apa yang kita lakukan semalam Ray, tak seharusnya ...? arghh, kenapa lu bersembunyi dalam raga Ray, bagaimanapun kau tidak bisa menyalahkan kodrat sebagai pria!" Amarah Intan memuncak.

"Nit …!"

"Jangan panggil gue Nit, nama gue Intan!" Darah Intan bergejolak, otaknya panas tak mampu tuk berpikir.

Ray belum sadar sepenuhnya, bicaranya pun masih ngawur.

Intan merasa percuma ngomel-ngomel, menghabiskan energi. Intan langsung bergegas membersihkan raga, dia merasa begitu kotor.

***

Ray sudah mulai tersadar, melihat keadaannya seperti bayi yang baru dilahirkan. Dia segera mengambil pakaiannya dan langsung membasuh wajahnya di wastafel.

Hanya terdengar gemericik air dari dalam, entah berapa lama Intan berada di dalam. Ray mengetuk pintu kamar mandi, dengan keadaan masih lemas.

"Nit … Nit, tolong buka pintunya Nit, maafin gue." Ketukan demi ketukan Ray, tidak Intan hiraukan.

Terdengar suara tangisan dari dalam membuat hati Ray semakin sakit.

"Tolong buka pintunya Nit." Ray pun ikut menangis, kepalanya dibenturkan ke pintu kamar mandi.

Hanya tinggal penyesalan diantara mereka, hanya karena minuman bisa membuat orang yang disayanginya ternoda, pikiran Ray kacau, perasaannya nano nano, sudah jatuh tertimpa tangga pula.

"Seumur hidup mengenalmu tak pernah satu air mata pun jatuh, bahkan disaat mama menamparmu …? apa yang aku lakukan! Dengan terisak Ray terus menyalahkan dirinya.

Tidak ada sedikit pun memori tentang kejadian semalam.

"Nit, tolong buka Nit, sudah berapa lama kau di dalam, nanti kau sakit." Bujuk Ray.

Kota Malang yang begitu dingin tidak membuat Intan beranjak dari kamar mandi, dia merasa begitu kotor.

Ray mencoba untuk mendobrak pintu, berbarengan Intan membuka, secepat kilat dia mengeles, akhirnya Ray pun tersungkur.

"Nit! tunggu! mau kemana?"

Tak terdengar satu kata pun yang terucap dari bibir Intan, yang terlihat begitu menggigil.

Ray hanya melihat Intan pergi, dia tak kuasa mengejarnya, keadaannya begitu kacau, ditambah pukulan Intan yang membuatnya semakin tidak berdaya.

Ray sudah tahu betul, bila Intan sudah tak berkata dia sudah tak mau kenal dengan orang itu lagi.

***

Sejak saat itu Ray dan Intan tak pernah berhubungan, terakhir Intan mendengar kabar dengan ciri-ciri seperti Ray ditemukan tewas bunuh diri, yang membuat hati janggal dia bertato.

"Peduli jangkrik! Pak Nathan pernah mencoba mencium gue, gue langsung hapus contact dalam ponsel." Meski hati Intan sedikit sakit, merasa kehilangan orang yang paling dekat dengannya, tapi rasa bencinya begitu besar.

Sejak saat itu Intan mengambil keputusan untuk pindah ke rumah neneknya. Intan anak yang kuat meski dalam keadaan emosi dia tidak ingin menghardik orang tersebut, dia tetap melakukannya dengan cara elegan.

***

Tidak terasa 10 tahun sudah Intan tak pernah mendengar apa pun tentang  Ray. Dia memberanikan diri untuk pulang ke rumahnya.

Semakin bertambahnya usia Intan sudah cukup dewasa menyikapi masalah, ketika dia berada di rumahnya kenangan tentang Ray yang sudah lama terkubur bangkit kembali.

"Tidak seharusnya aku berlaku kasar padamu Ray, karena saat itu kita sama-sama tak sadar, betapa egoisnya aku, disaat itu kau sedang terluka, aku pun ikut menaburi lukamu dengan garam, apakah kau benar-benar melakukan perbuatan keji itu? aku juga salah saat itu, aargh … tidak seharusnya aku ikut minum, hanya ingin mengobati rasa penasaran ini." Batin Intan terus mengoceh diikuti buliran bening yang tak dapat dicegah untuk keluar.

"Intan … kesini Nak."  Intan tersadar atas lamunannya.

"Ya  Ayah, tunggu sebentar."

"Anakku, usiamu sudah mau memasuki angka 3, kau anak tunggal, apakah kau tidak ingin memberi ayah cucu?" Intan hanya diam seribu bahasa, tanpa sadar manik berbinar kembali.

"Bicaralah Nak, apa yang kau pendam selama ini?"

Intan tak mampu berkata-kata lagi, dia sangat pandai menyembunyikan dukanya. Ayah Intan tidak memaksa apa pun apa yang Intan sembunyikan.

Intan berubah 180 derajat sejak kejadian tersebut, dia lebih menutup diri bagi kalangan luar, meski nenek dan orangtua selalu ingin menjodohkannya.

Bersambung

Terimakasih yang sudah membaca




Keep smile and istiqamah.


Saran dan kritik dengan cara yang sopan.


Part 1

Part 2
***

Nb. saat emosi tidak harus dengan kata-kata memaki.

Jakarta, 15:19
Selasa, 24 September 2019

Cerita ini hanya fiktif, apabila ada kesamaan nama dan cerita tidak ada faktor kesengajaan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar