Mentari kembali tersenyum. Tanah basah masih menguar akibat awan memerintah air turun ke bumi. Suara kicauan burung pun tak lagi usai menyanyi untuk menyambutnya. Aku masih enggan terbang bersama burung untuk menikmati indahnya alam.
Netra tak lagi usai terpejam. Raga telah kehabisan energi ... tetapi panggilan-Nya memaksaku untuk segera bangkit dari kelelahan tak bertepi.
Aku sudah lelah berteman sepi, ditambah kabar angin dengan cupar mengiris hati. Meski tak ingin merajut benang putih ada seseorang yang berharap itu terjadi.
Terdengar irama mendayu-dayu melantunkan namaku. Tak tersadar sudut mata mengeluarkan bening yang hampir mengkristal, kuusap dengan kelembutan agar tiada timbul keresahan bila sembab telah tampak.
Aku tersadar dalam kesiluan. Ada netra tajam ke arahku, bagai anak panah yang melesat tepat ke jantung hatiku. Dia memesonaku.
Hati ini dibuatnya menari. Aku terbang bersama burung dan ikut bernyanyi. Dialah oase di padang tandus, pupuk yang menyuburkan bunga yang hampir layu. Gayung pun bersambut, kini ... tak ada hening menyertaiku.
Ketika awan menutupi matahari, langit gelap menyertai, timbul pertanyaan yang meresahkan hati. "Apakah aku sudah menemukan tulang rusukku? Apakah dia yang akan menyempurnakan agamaku? Atau aku hanya pelabuhan sementara, setelah itu dia pergi berlayar kembali ....
#Keepsmile&Istiqamah
Jakarta, 16 Desember 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar